Pertemuan CAIRNS Diharapkan Dapat Melanjutkan Putaran Doha
Category: Ekonomi, Posted on Juni 12th, 2009 by adminJAKARTA - Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengharapkan pertemuan kelompok Carins dapat menjadi titik awal kelanjutan pembahasan perundingan Putaran Doha yang sempat terhenti.
Sebanyak 18 negara kelompok Cairns akan menghadiri pertemuan di Bali pada 7-9 Juni 2009 mendatang sebagai kelompok yang memperjuangkan aturan perdagangan multilateral yang seimbang guna mendorong penyelesaian perundingan putaran Doha yang telah berlangsung selama tujuh tahun.
“Yang terpenting adalah memulai kembali proses pembahasan karena selama ini stop, kita akan mulai membuka dari titik Desember 2008 lalu dan tidak melihat kebelakang yang sudah dicapai tapi apa yang belum,” ujar Mendag di Jakarta, Jumat (5/6).
Pembahasan putaran Doha mulai terhenti sejak Desember 2008 sehingga Cairns grup berupaya memulai kembali pembahasan dengan tetap memperjuangkan dihapuskannya subsidi pertanian dan subsidi ekspor produk pertanian yang telah mendistorsi harga dunia.
“Mungkin tidak ada kesepakatan tapi bagaimana kita bisa memulai kembali, dan ini sinyal positif yang menunjukan political will, minimal kesepakatan memulai suatu proses dengan agenda atau roadmap kedepan,” ungkap Mari.
Dengan adanya subsidi pertanian dan subsidi ekspor produk pertanian oleh negara-negara maju, menyebabkan harga perdagangan dunia menjadi lebih rendah atau tidak seimbang sehingga para petani di negara berkembang tidak memperoleh harga yang layak.
Menurut Mendag, dimulai pembahasan oleh kelompok Cairns dapat menjadi masukan peradagangan dunia atau G20 karena kelompok Cairns merupakan negara-negara yang memegang peranan penting dalam ekspor pertanian.
“Kita jangan memiliki harapan yang terlalu tinggi untuk cepat menyelesaikan putaran Doha, karena tentunya ada proses multilateral yang harus selalu kita kembalikan ke Jeneva (G20),” tegas Mendag.
Lebih lanjut, Mendag menjelaskan, jika perundingan putaran Doha terselesaikan maka akan berdampak positif bagi proses revitalisasi pertanian yang tengah dilakukan Indonesia.
“Tapi kalau kita sudah memiliki level efisiensi dalam produk pertanian tentunya pasti bisa ekspor, jadi ini melihat kedepan potensial produk ekspor pertanian kita,” papar Mendag.
Ditempat yang sama, Dita Besar RI untuk Jeneva, J Widodo mengatakan, data Bank Dunia menunjukan subsidi yang dilakukan oleh negara-negara maju tersebut telah menekan biaya hingga 17 miliar dolar AS pertahun bagi negara-negara berkembang termasuk Indonesia.
“Jika subsidi ini dihapuskan maka income bagi negara-negara berkembang akan mencapai 300 miliar dolar AS,” kata Widodo. (*)
